Menjawab UU Minerba, Asia Mangan Grup membangun Smelter


PT. Asia Mangan Grup membangun smelter untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam UU Minerba terbaru, yang  dimulai dengan peletakan batu pertama pembangunan unit pemurnian mangan atau smelter di Kabupaten Belu , Nusa Tenggara Timur pada tanggal 21 Desember 2013. Kegiatan ini merupakan wujud kerja yang telah diselesaikan selama 2 tahun terakhir, yang bertujuan untuk mengembangkan industri pertambangan dan pengolahan terpadu sepenuhnya di wilayah tersebut .

esmian pembangunan smelter ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara , Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral , Bapak Dr.Ir. R. Sukhyar, dan dihadiri oleh Gubernur Provinsi NTT , Frans Lebu Raya dan Bupati Belu, Joachim Lopez dan pejabat lainnya dari Pusat, Provinsi dan Kabupaten.

Presiden Direktur Asia Mangan Group , Michael Kiernan menyatakan, “tujuan membangun smelter ini adalah untuk mendukung kebijakan hukum pertambangan Indonesia dan untuk menciptakan industri yang berkelanjutan di daerah Indonesia yang akan memberikan pendapatan ekspor jangka panjang bagi negara dan meningkatkan pertumbuhan lapangan kerja dan manfaat lain bagi masyarakat NTT.”

Mangan digunakan terutama dalam produksi baja sebagai unsur paduan . Bijih Mangan ditemukan di NTT dan wilayah sekitarnya termasuk  kelas komersial tertinggi di dunia , mencapai tingkat kemurnian 56 % mangan .

Sean McDaniell , Managing Director Asia Mangan Group mengatakan: “rencananya perusahaan akan membangun 8 tanur busur listrik dengan kapasitas produksi 128.000 ton paduan ferro mangan per tahun” . “Selain itu perusahaan akan membangun sendiri pembangkit listrik secara bertahap untuk mendukung proyek tersebut , hingga kapasitas 75 mega watt” . “Proyek ini akan mengambil total 3 tahun untuk sampai ke kapasitas penuh”.

Proyek smelter Asia Mangan Grup berbeda dengan banyak mineral besar lainnya di Indonesia, seperti yang telah di rencanakan oleh  perusahaan untuk tetap berkomitmen penuh membangun rantai pasokan bijih mangan, dan diharapkan pembangunan smelter ini nantinya akan menghasilkan komoditas yang terbaik di Indonesia dan nantinya, hal ini akan menciptakan pendapatan baru bagi perekonomian dan memiliki dampak yang dramatis pada kesejahteraan masyarakat NTT .

“Smelter tersebut nantinya dapat mempekerjakan hingga 1.000 tenaga kerja lokal sehingga dapat mendorong ekonomi lokal dan pada saat yang sama, akan mentransfer pengetahuan dan teknologi, dan, akan meningkatkan PDB lokal dari impor dan ekspor pajak, royalti untuk memacu pertumbuhan ekonomi” tambah Sean.

Sementara itu, Bupati Belu, Joachim Lopez mengatakan: “proses perizinan pembangunan smelter ini sudah melalui proses yang cukup panjang dengan pengawasan yang sangat ketat”. Asia Mangan diminta untuk tetap menjalankan proses pembangunan ini dengan memperhatikan lingkungan, ekonomi, sehingga pembangunan ini memiliki nilai tambah bagi Kabupaten Belu khususnya masyarakat sekitarnya.”Yang paling penting ada nilai tambah bagi masyarakat Belu”, tegas Bupati.

Sedangkan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengatakan: “ bangga dengan dipilihnya Kab Belu untuk pembangunan smelter ini, yang tentunya akan meningkatkan perekonomian masyarakat.”. “Kami menegaskan kembali, bahwa kami sangat terbuka dengan masuknya para investor untuk membantu pembangunan di NTT, tetapi tentunya tetap memperhatikan proses yang benar,  memperhatikan lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat, dan yang paling penting, setiap pembangunan di NTT harus memiliki nilai tambah bai masyarakat”.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara , Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral , yang baru dilantik, Bapak Dr.Ir. R. Sukhyar mengatakan: “pemerintah selalu mendukung pihak swasta yang serius membangun smelter seperti ini, karena proyek ini sejalan dengan program pemerintah untuk pengolahan hasil tambang di dalam negeri sebelum diekspor”. “Dengan adanya smelter ini, berarti kapasitas smelter di Indonesia semakin bertambah dan akan dapat mengolah hasil tambang dari perusahaan-perusahaan tambang lainnya”.